Someday Project mengadakan Roadshow keduanya yang bertempat di Taman Suropati, Jakarta Selatan. Roadshow kali ini diadakan pada hari Minggu, 31 Januari 2016. Mengulang kesuksesan roadshow sebelumnya, Someday Project kembali menampilkan beberapa Sneak peek pementasan A Whole New World 2.0 dan tentunya Erasci The Musical. Sneak peek yang ditampilkan berupa tarian, lagu orisinil, dan acting para pemain kedua pentas kami di tahun ini.
Pada pukul 16.00 roadshow pun dimulai dengan cuplikan pementasan A Whole New World 2.0. Penonton pada roadshow kali ini didominasi dengan para remaja, anak muda, bahkan anak-anak. Roadshow yang diadakan di Taman Suropati ini juga bertujuan agar roadshow lebih terbuka luas untuk orang banyak. Tujuan tersebut pun dapat terwujudkan, para penonton merasa sangat senang dengan adanya roadshow kedua dari Someday Project ini. Mereka bernyanyi, dan menari bersama kami dengan penuh antusias.
Seperti roadshow sebelumnya, show pertama juga dibuka dengan penampilan Sneak peek dari pementasan A Whole New World 2.0, penari-penari istana pun mulai menarikan tarian andalannya dan langsung memikat para perhatian penonton. Tentunya A Whole New World 2.0 juga membawakan lagu ciri khasnya yaitu, lagu A Whole New World yang di populerkan oleh Disney. Dan juga selain lagu ciri khasnya, A Whole New World 2.0 juga membawakan lagu orisinil mereka seperti, Agrabah , I’ll Be Here dan Writing Happines. Setelah penampilan sneakpeek pementasan A Whole New World 2.0 berlangsung meriah, dilanjutkan dengan penampilan sneakpeek pementasan Erasci The Musical. Erasci The Musical juga menampilkan lagu-lagu andalannya seperti, My Time For The Good Part, When We’re Alive, Tak terelakan, dan Dadu dan catur yang tentunya merupakan lagu ciptaan divisi Smoothe dari Someday Project sendiri.
Sore itu kami juga mewawancarai beberapa penonton yang hadir. Mereka pun mengatakan
bahwa mereka sangat kagum kepada komunitas Someday Project yang semua membernya adalah pelajar yang duduk dibangku SMA, mereka juga berkata bahwa komunitas seperti ini lah yang sebenarnya pantas diisi oleh para pelajar SMA, karena Someday Project memberikan dampak positif untuk para pelajar SMA. “Untuk komunitas sebesar ini dan pentas yang sebagus ini, sepertinya perlu di kagumi, apalagi saat tau bahwa seluruh anggotanya adalah para pelajar SMA” ucap salah satu pengunjung Taman Suropati sore itu.
Penasaran ? Click www.sprojectph.com for more info
2 Februari 2016
24 Januari 2016
Someday Project Roadshow @Cafe Seven8Nine
Someday Project
mengadakan roadshow pertama nya di seven8nine, Kedoya, Jakarta Barat. Roadshow
yang di adakan pada hari Minggu, 17 Januari 2016 silam merupakan ajang promosi
2 pentas besar Someday Project produksi
tahun 2016, yang menampilkan beberapa sneak peek pementasan A Whole New World 2.0 dan Erasci The Musical.
Sneak peek yang di tampilkan berupa
cuplikan lagu orisinil, tarian, dan acting para pemainnya di panggung
seven8nine.
Roadshow di
mulai pada pukul 18.00 mendapat sambutan yang hangat dari para pengunjung.
Mereka yang notabene nya para mahasiswa
& para keluarga yang menikmati akhir pekannya memberikan tepuk
tangan yang meriah pada setiap lagu yang dibawakan, dan terlihat dari ticket booth yang di penuhi oleh
pengunjung yang antusias ingin mengetahui lebih lanjut tentang pentas yang di
selenggarakan oleh Someday Project. Roadshow kali ini juga di pandu oleh 2 mc
dari Someday Project sendiri, yaitu Dellaneira Adzra dan Fachrul Rozzy.
Show
pertama dibuka dengan lagu Treasure dan Teka-Teki yang di bawakan oleh beberapa
anggota dari Someday Project itu sendiri. Kemudian setelah istirahat beberapa
saat, show pertama kembali di buka dengan tarian penari istana A Whole New
World 2.0 dan dilanjutkan dengan penampilan sneak
peek pementasan A Whole New World
2.0, adapun beberapa lagu yang dibawakan oleh penampilan A Whole New World 2.0
kali ini seperti, Agrabah, I’ll Be Here Writing Happines, dan lagu yang
tentunya sudah tidak asing lagi karena di adaptasi dari Disney yaitu A Whole
New World. Setelah penampilan para cast A Whole New World 2.0 yang memukau para
pengunjung, di lanjutkan dengan penampilan sneak
peek pementasan Erasci The Musical, dalam sneak peek kali ini Erasci The Musical menampilkan beberapa lagu
ciptaan divisi Smoothe dari Someday Project sendiri, seperti My Time For The Good Part, When We’re Alive,
Tak terelakan, dan Dadu dan catur. Setelah penampilan para Cast Erasci The
Musical yang mengundang keceriaan pengunjung, mereka juga di manjakan dengan
penampilan dari para coach yang menampilkan lagu hits seperti Almost Is Never
Enough dari Ariana Grande, dan ditutup dengan lagu Love Yourself dari Justin
Bieber yang membuat seluruh pengunjung seven8nine menyanyi bersama, dan membuat
Susana menjadi hangat dan tentunya sangat meriah
Menurut
para pengunjung yang berhasil kami wawancarai, kesan mereka terhadap 2
pementasan Someday Project malam itu, terbilang cukup sukses dan merekapun
merasa sangat terhibur dengan adanya roadshow Someday Project malam itu. “A
Whole New World 2.0 nya udah bagus banget, chemistry yang ada antara cast
jasmine & Aladdin nya juga udah
dapet banget. Erasci The Musicalnya juga udah menarik banget, bikin penasaran,
lagu bikinannya juga bagus-bagus banget ya. Untuk rating 95 lah ya” ungkap
salah satu pengunjung yang sempat kami wawancarai.
Jadi
apa yang kalian tunggu? Segera beli tiketnya sebelum kehabisan!
22 Januari 2016
Erasci The Musical
WE PRESENT TO YOU
"ERASCI THE MUSICAL"
"Perdana Ziva, pemimpin bangsa malaikat, kalah duel. Dan bila malaikat kalah, kiamat bisa dipastikan datang.
Namun bila iblis sudah menang dan kiamat dipastikan datang, untuk apa lagi mereka hidup?
"Untuk membatalkan apa yang ia datangkan," tulis takdir.
Hanya saja, yang tertulis selanjutnya bisa jadi lebih mengejutkan daripada itu....
Maka saksikanlah sendiri, dan cari tahu: pada siapakah sang takdir tersenyum?"
This show will be perfomed at Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, on:
Friday, 19th February 2016, 7pm (Show 1)
Saturday, 20th February 2016, 4pm (Show 2) and 7pm (Show 3)
Ticket Pricelist:
Silver: Rp 110.000
Gold: Rp 140.000
Platinum: 165.000
Diamond: 200.000
For ticket inquires, please kindly contact:
Aneira Kyla
(Whatsapp/SMS: 081316315788)
(LINE: aneirakyls)
We will keep you updated! Go check
Website: www.sprojectph.com
Instagram: @septheatre
Twitter: @SEP_ID
Facebook: SEP Theatre
See u soon!
15 Januari 2016
Tone In The Basket IV Review
![]() |
| Penampilan Erasci The Musical di Tone In The Basket IV |
![]() |
| Penampilan A Whole New World 2.0 di Tone In The Basket IV |
Pada tanggal 24 Oktober 2015 silam, Someday Project berhasil memproduksi pementasan yang bertajuk "Tone In The Basket IV", yang merupakan pre-event dari kedua pementasan Someday Project yang akan datang, yaitu A Whole New World 2.0 dan Erasci The Musical. Tone In The Basket IV berhasil membuat para penonton takjub dengan penampilan teater musikal yang mengadaptasi konsep teater broadway. Tone In The Basket IV sendiri menerima sambutan yang baik dari penikmat teater musikal masa kini. Hal ini dapat dibuktikan dengan feedback positif yang didapat dan juga jumlah seat yang terjual 100%, yaitu 670 seats
Keberhasilan dari pementasan ini tidak berhenti disini. Menyusul kesuksesan dari Tone In The Basket IV, Someday Project akan kembali dengan puncak dari produksinya tahun ini, yakni pementasan A Whole New World 2.0 di Gedung Pertunjukan Bulungan pada tanggal 6 Februari 2016, dan Erasci The Musical di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 19-20 Februari 2016. Dengan adanya kedua pementasan ini, diharapkan akan terus meningkatkan eksistensi Spmeday Project sebagai komunitas teater di Jakarta yang selalu menampilkan karya-karya tulus demi menghibur para penikmat teater di Jakarta.
12 Januari 2016
A Whole New World 2.0
A Whole New World 2.0
"A Twisted Tale of Aladdin"
Suatu kisah yang menunjukkan bahwa pengorbanan tidak
selalu berakhir pada keterpurukan, bisa jadi hal tersebut merupakan sebuah
anugerah yang dapat membuat pengorbanan menjadi suatu hal yang menakjubkan.
A Whole New World 2.0 adalah sebuah pentas eksternal
gabungan Teater Delima SMAN 85 dan Kuaterfilas SMAN 112. Ini adalah kali kedua
Teater Delima dan Kuaterfilas bekerja sama.
Pentas ini akan diadakan pada:
Sabtu, 6 Februari 2016 di Gedung Pertunjukan
Bulungan.
Show 1: 16.00 pm
Show 2: 19.00 pm
For ticket inquiries, please contact:
Emirah Khansa S
Telp: 081513421071
LINE: Emirahkhnsa
Untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut dapat
dilihat di :
Instagram
: @Kuaterfilas
@TeaterDelima
#DukungTeater #TeaterDelima #Kuaterfilas #Theatre
#Musical #AWNW #DaysToAWNW
10 Januari 2016
Violet The Musical : Tales Of Viona
Violet The Musical Tales of Viona yang merupakan pementasan eksternal kedua dari Someday bercerita tentang kisah cinta di Negeri Warna. Negeri Warna adalah sebuah tempat dimana masyarakatnya terbagi ke dalam 4 clan, yaitu Pink, Red, Yellow, dan Blue. Semua orang di Negeri Warna hanya boleh menjalin cinta jika mereka berada di satu clan yang sama. Namun, pada suatu masa, terjadilah sebuah masalah yang disebabkan karena kisah cinta yang melanggar aturan, yaitu kisah cinta Billy dan Patricia.
Billy, salah seorang dari Blue clan, mencintai Patricia, yang berasal dari Pink clan. dan begitu pula sebaliknya. mereka sebenarnya tahu bahwa cinta ini terlarang. Beberapa kalangan dari Yellow clan dan Pink clan bahkan sudah mengingatkan ganjaran apa yang akan mereka terima, salah satunya Yori. Yori, seorang dari Yellow clan, meminta Billy untuk tidak mencintai yang beda warna karena Yori pernah merasakan betapa pahitnya dipaksa untuk ‘memenjarakan’ cintanya untuk Randi, seorang dari Red clan, yang akan menikah dengan Rachel. Namun mereka berdua tetap bersikukuh, bahwa tidak ada yang salah dengan mencintai dalam perbedaan.
“Bagian yang paling memorable menurutku sih pas Billy dan Patricia ketemu, sebelum terciptanya Violet. Di scene itu, Billy bilang satu kalimat untuk Patricia yang sangat bikin hati tersentuh:
Bayangan ini tidak jauh berbeda ketika kamu menuliskan surat untukku. Bedanya bayangan akan diriku dihadapanmu saat ini jauh lebih dekat, jauh lebih nyata, dan jauh lebih mungkin untuk digenggam. ”
-Rachel, Red Clan
19 Oktober 2013 menjadi malam yang luar biasa bagi semua yang ada di SEP Theatre. Latihan dan pengerjaan produksi selama 6 bulan terbayarkan dan membuktikan pepatah bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
7 Januari 2016
A Whole New World
A WHOLE NEW WORLD merupakan pementasan eksternal pertama dari SSD 78 (Sebelum kini berubah menjadi SEP Theatre) tahun 2012 lalu. Siapa yang sangka malam 31 Agustus 2012 yang telah terjadi lebih dari 3 tahun lalu itu merupakan batu loncatan pertama dari SEP Theatre dalam menampilkan pementasan musikal yang luar biasa tiap tahunnya.
A Whole New World menceritakan tentang kisah cinta Aladdin dan Jasmine di Kerajaan Agrabah pada dinasti Abbasiyah. Aladdin adalah salah seorang dari tim penari istana di Kerajaan Agrabah. Ia adalah penari miskin yang hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan. Pada suatu ketika, Ia sedang menari dihadapan Putri Jasmine, anak dari Sultan Kerajaan Agrabah. Seiring dengan berjalannya waktu, Aladdin dan Jasmine pun saling jatuh cinta. Namun sayang, kisah cinta mereka tidak disetujui oleh Sultan karena besarnya jurang perbedaan antara Aladdin dan Jasmine. Aladdin hanyalah seorang penari istana yang miskin, sementara Jasmine adalah putri Sultan Kerajaan Agrabah yang dicintai semua rakyat. Aladdin pun menangis putus asa, mengutuki nasibnya yang tidak sebagus orang-orang lain. namun ternyata, tangisan putus asanya tersebut malah menghasilkan mutiara yang dapat membuatnya menjadi kaya raya. Pada akhirnya, Aladdin dapat membuktikan bahwa Jasmine memang tercipta hanya untuknya, dan mereka pun akhirnya dapat hidup bersama.
![]() |
| Jasmine and Aladin |
![]() |
| Princess All Over The World |
![]() |
| Palace's Dancer |
![]() |
| Aladin propose Jasmine |
“Perasaannya sih excited banget ya, apalagi pas itu gue baru masuk teater dan langsung dapat kesempatan main di pentas yang cukup megah. Gak cuma ilmu tentang teater yang gue dapet disitu, Gue juga ngerasain proses membuat produksi yang bikin kebersamaan SSD jadi kuat,” ujar Kak Alif Pujo, pemeran tokoh Sultan saat ditanya tentang perasaannya saat bermain di A Whole New World
![]() |
| Mama |
A Whole New World telah menginspirasi SEP Theatre untuk berkembang dan lebih memberi kejutan lagi. Sesaat setelah pentas diselesaikan, Naskah baru langsung dibentuk dan latihan intensif kembali dilanjutkan. Mengulang kesuksesan pertama dengan pementasan lebih baik lagi ditahun berikutnya. akan menjadi topik kita selanjutnya di Track Record Someday Project
6 Januari 2016
Teater Delima
Teater Delima adalah salah satu ekstrakurikuler SMA Negeri 85. Berdiri sejak tahun (sebutkan tahun disini) dan terdiri dari (jumlah angkatan) angkatan hingga tahun 2015.
Teater Delima telah menghasilkan banyak pertunjukan yang dilahirkan berkat kerja keras divisi-divisi yang piawai dalam bidangnya.
Sebagai ekstrakurikuler teater dan drama, Teater Delima siap menjadi wadah kreatifitas baik dalam bidang seni peran, seni musik, dan seni tari. Bukan hanya bertujuan untuk mengembangkan minat para siswa akan seni teater dan drama, Teater Delima juga bertujuan untuk mengasah kepercayaan diri tiap anggotanya sehingga dalam setiap pembawaan peran, mereka dapat menghayatinya secara penuh sehingga dapat menggugah spektator. Teater Delima berusaha untuk mencetak karakter muda yang berprestasi, berbakat, kreatif, dan bertanggung jawab.
Tahun ini adalah tahun pertama Teater Delima bekerja sama dalam Someday Project bersama SMAN 78 dan SMAN 112.
Find more info about Teater Delima at
Instagram : @Teaterdelima
Teater Delima telah menghasilkan banyak pertunjukan yang dilahirkan berkat kerja keras divisi-divisi yang piawai dalam bidangnya.
Sebagai ekstrakurikuler teater dan drama, Teater Delima siap menjadi wadah kreatifitas baik dalam bidang seni peran, seni musik, dan seni tari. Bukan hanya bertujuan untuk mengembangkan minat para siswa akan seni teater dan drama, Teater Delima juga bertujuan untuk mengasah kepercayaan diri tiap anggotanya sehingga dalam setiap pembawaan peran, mereka dapat menghayatinya secara penuh sehingga dapat menggugah spektator. Teater Delima berusaha untuk mencetak karakter muda yang berprestasi, berbakat, kreatif, dan bertanggung jawab.
Tahun ini adalah tahun pertama Teater Delima bekerja sama dalam Someday Project bersama SMAN 78 dan SMAN 112.
Find more info about Teater Delima at
Instagram : @Teaterdelima
Kuaterfilas
Kuaterfilas (Kumpulan Anak Teater dan Film SMAN 112) merupakan salah satu ekstrakurikuler di bawah naungan SMA Negeri 112 Jakarta yang telah berdiri sejak tahun 2013 mencakup 3 angkatan hingga tahun 2015.
Sebagai ekstrakurikuler drama/teater, Kuaterfilas merupakan wadah untuk mengekspresikan karya, imajinasi, dan juga mengembangkan bakat dalam bidang drama/teater.
Aspek pementasan yang dimaksud bukan hanya dalam bidang seni peran, melainkan juga mencakup olah tubuh, seni tari, dan seni vocal atau Tarik suara. Kuaterfilas juga telah meraih berbagai prestasi di beberapa perlombaan untuk SMA dan sederajat. Dalam kurun 3 tahun menjadi komunitas yang senantiasa mencetak banyak prestasi , mencetak individu yang penuh bakat cerdas, dan terlatih. Kuaterfilas selalu berusaha menjaga nama baik di kalangannya.
menyusul kesuksesan pementasan "The Perspective" di bulan september lalu dan "Tone in the Basket 4.0" di bulan oktober lalu, Kuaterfilas juga dengan bangga mempersembahkan suatu pementasan drama musical berjudul "A Whole New World 2.0" pada bulan Februari 2016 mendatang. "A Whole New World 2.0" tak hanya akan menambah pencapaian dan mencetak sejarah baru bagi Kuaterfilas, namun juga diharapkan akan menyentuh dan mempesona penonton dengan segala kemegahan dari seluruh aspek pementasannya.
Find more info about Kuaterfilas in
Instagram : Kuaterfilas
Twitter : Kuaterfilas_112
Facebook : Kuaterfilas
Line ID : ucr1704m
Find more info about Kuaterfilas in
Instagram : Kuaterfilas
Twitter : Kuaterfilas_112
Facebook : Kuaterfilas
Line ID : ucr1704m
5 Januari 2016
SEP Theatre
SEP adalah SSD 78 External Production, yang telah berdiri sejak tahun 2012. SEP yang terdiri dari kakak kakak alumni SSD 78 membimbing adik adik anggota nya untuk berkarya sambil belajar mementaskan pertunjukan teater musikal yang dapat disaksikan, bukan oleh hanya murid SMAN 78 sendiri, melainkan untuk orang banyak. SEP telah sukses memproduksi 3 pentas eksternal sebelumnya yang berjudul A Whole New World, Violet The Musical : Tales Of Viona, dan Neil It! The Musical yang baru saja dipentaskan pada 14 Februari 2015 di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini. Kali ini SEP Theatre mengajak Kuaterfilas dan Teater Delima dibawah arahan Someday Project untuk berkolaborasi di pementasan Tone In The Basket 4 yang menjadi acara sebelum pementasan puncak masing-masing teater sekolah di bulan februari nanti.
Find More Information About SEP Theatre at
Instagram : SEPtheatre
Twitter : Sep_Id
Facebook : SEP Theatre
Someday Project
Who We Are
Someday Project adalah sebuah komunitas teater musikal di Jakarta yang lahir dari teater SMA. Beranggotakan alumni dari setiap teater di SMA ini, Someday Project ada untuk mendorong, memberikan arahan, dan mendukung teater-teater SMA di Jakarta untuk melakukan pementasan teater musikal yang berkualitas, menarik dan memberikan nilai positif bagi pengapresiasi seni,
Komunitas ini lahir bersamaan dengan berkembangnya ekstrakulikuler Sanggar Seni Drama 78 dari SMAN 78 yang telah berdiri selama lebih dari 28 tahun. Selama 3 tahun terakhir, Someday Project yang dulunya berasal dari SEP Theatre telah berhasil menciptakan komunitas teater musikal SMA, dan menyelenggarakan karya SSD 78 di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini. Tahun ini, SEP Theatre berkembang menjadi Someday Project Management untuk membuka teater komunitas yang ada agar dapat membuat produksi musikal teater untuk jangka panjang.
Why Highschool Musical Theatre ?
High School
- SMA merupakan salah satu tahap pembentukan karakter dan budaya yang fundamental bagi setiap orang,
- SMA merupakan tempat bagi Learning Process untuk terjadi terutama pembentukan sikap dan moral
Theatre
- Teater merupakan media pembelajaran melalui seni yang fun to watch dan bernilai moral
- Teater di SMA merupakan salah satu aktifitas ekstrakulikuler yang masih berkembang dan mengajarkan nilai kedisiplinan
Musical
- Teater musikal di era modern merupakan salah satu bentuk dari modifikasi teater yang diminati masyarakat
- Di Indonesia teater musikal mulai berkembang. Dibalik unsur dan adaptasi budaya barat. Teater musikal di Indonesia tetap menyimpan nilai moral dari teater tradisional Indonesia
Why S Project ?
Kami percaya bahwa kami dapat dan berusaha memberikan nilai-nilai moral melalui teater musikal di SMA yang kaya akan unsur seni dan nilai pendidikan, sehingga kami berharap kami dapat memberikan dampak besar pada generasi muda Indonesia.
THE VISION
To be A Pioneer in South East Asia that create continous and sustainable musical theatre productions, so musical theatre performances can be a weekly show to watch
THE MISSION
Short Therm Goal (2020)
Establishing a theatre prodution house in Jakarta by creating a collaboration between 10 High School Theatre. Each in high school theatre will produce an annual theatre production show that worth USD 50.000
Mid Therm Goal (2035)
Broadening the theatre production house in Indonesia by collaborating with 20 Theatre Companies. Each theatre company will produce an annual theatre production show that worth USD 100.000
Long Term Goal (2050)
- Cetralized theatre company production in South East Asia
- Projected to be achieved in 2050
- Focusing on 3 Satellite city-state
- Establishing 40 theatre companies grow from a comunity theatre
- Making annual production that worth USD 200.000
31 Desember 2015
Perkembangan Teater di Indonesia #2
5. Teater Indonesia Orde Lama (1950-1970)
Setelah tokoh kemerdekaan,
peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg
kemerdekaan, juga sebaliknya, mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan,
kekecewaan, penderitaan, keberanian dan nilai kemanusiaan, pengkhianatan,
kemunafikan, kepahlawanan dan tindakan pengecut, keiklasan sendiri dan
pengorbanan, dan lain-lain. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon
Fajar Sidik (Emil Sanossa, 1955), Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja, 1951),
Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang, 1954), Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin,
1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin, 1959). Sementara ada lakon yang
bercerita tentang kekecewaan paska tokohg, seperti korupsi, oportunisme
politis, erosi ideologi, kemiskinan, Islam dan Komunisme, melalaikan
penderitaan korban tokohg, dan lain-lain. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon
seperti Awal dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang
Sontani, bahkan lakon adaptasi, Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja
(1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali
(1956), berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Utuy Tatang Sontani
dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di
Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi
sebagai ciri kehidupan moderen. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal
di Indonesia, melainkan sampai ke Malaysia.
Realisme konvensional dan
naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater
barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Kedua seniman
teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya
Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan
Asrul Sani. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan
lakon-lakon terjemahan dari Barat, seperti karyakarya Moliere, Gogol, dan
Chekov. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI
adalah Stanislavskian.
Menurut Brandon (1997), ATNI
inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Alumni Akademi
Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain, Teguh Karya,
Wahyu Sihombing, Tatiek Malyati, Pramana Padmadarmaya, Galib Husein, dan Kasim
Achmad. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi
Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS)
didirikan di Surakarta.
6. Teater Politik (1970-1980)
Jim Adi Limas mendirikan
Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan
unsur-unsur teater etnis seperti gamelan, tari topeng Cirebon, longser, dan
dagelan dengan teater Barat. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para
aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. Karya penyutradaraanya,
yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). Bermain
dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William,
1962), The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Pada tahun 1960, Jim Lim
menyutradari Bung Besar, (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser, teater
rakyat Sunda.
Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan
unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul
Pangeran Geusan Ulun (Saini KM., 1961). Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah
judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Menyutradarai dengan gaya realistis
tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus, 1945), Badak-badak
(Ionesco, 1960), dan Biduanita Botak (Ionesco, 1950). Pada tahun 1967 Jim Lim
belajar teater dan menetap di Paris. Suyatna Anirun, salah satu aktor dan juga
teman Jim Lim, melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan
unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis.
Peristiwa penting dalam usaha
membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967,
Ketika Rendra kembali ke Indonesia. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang
kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan
naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Akan tetapi,
pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian
mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata
(menggunakan kata seminimal mungkin). Pertunjukannya misalnya, Bib Bop dan
Rambate Rate Rata (1967,1968).
Didirikannya pusat kesenian Taman
Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin, gubernur DKI jakarta tahun1970, menjadi pemicu
meningkatnya aktivitas, dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta,
tetapi juga di kota besar seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Padang,
Palembang, Ujung Pandang, dan lain-lain. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67
(enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang
sandiwara, menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur, juga lokakarya
dan diskusi teater secara umum atau khusus. Tidak hanya Stanislavsky tetapi
nama-nama seperti Brecht, Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan.
Di Surabaya muncul bentuk
pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat
(kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat, Akhudiat, Luthfi Rahman, Hasyim
Amir (Bengkel Muda Surabaya, Teater Lektur, Teater Melarat Malang). Di
Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa
mendirikan Teater Muslim. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Di
Makasar, Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Lalu Teater
Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang.
Tokoh-tokoh teater yang muncul
tahun 1970-an lainnya adalah, Teguh Karya (Teater Populer), D. Djajakusuma,
Wahyu Sihombing, Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga), Ikranegara (Teater
Saja), Danarto (Teater Tanpa Penonton), Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Arifin
C. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking, musik, vokal, tata
cahaya, kostum dan verbalisme naskah. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri
penampilan menggunakan kostum yang meriah dan vokal keras. Menampilkan manusia
sebagai gerombolan dan aksi. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan
yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror.
N. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata
artistik glamor.
7. Teater Remaja (1980 –
1990)
Tahun 1980-1990-an situasi
politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di
tingkat nasional. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat
peristiwa Malari 1974.
Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan.
Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian
merupakan produk festival teater. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater
Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Beberapa jenis festival di
Yogyakarta, di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan
Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Di Surabaya ada Festival Drama
Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman, Kholiq Dimyati dan Mukid F.
Pada saat itu lahirlah
kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Di Yogyakarta
muncul Teater Dynasti, Teater Jeprik, Teater Tikar, Teater Shima, dan Teater
Gandrik. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh
teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di
masyarakat menjadi bangunan cerita. Lakon yang dipentaskan antra lain, Pasar
Seret, Meh, Kontrang- kantring, Dhemit, Upeti, Sinden, dan Orde Tabung.
Di Solo (Surakarta) muncul Teater
Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan
kehidupan rakyat pinggiran. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Di samping Gapit,
di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Di Bandung muncul Teater Bel, Teater
Republik, dan Teater Payung Hitam. Di Tegal lahir teater RSPD. Festival Drama
Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita, Teater Ragil, Teater Api, Teater
Rajawali, Teater Institut, Teater Tobong, Teater Nol, Sanggar Suroboyo. Di
Semarang muncul Teater Lingkar. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang
muncul Teater Potlot.
Dari Festival Teater Jakarta
muncul kelompok teater seperti, Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi
naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui
eksplorasi latihan. Ada pula Teater Luka, Teater Kubur, Teater Bandar Jakarta,
Teater Kanvas, Teater Tetas selain teater Studio Oncor, dan Teater Kami yang
lahir di luar produk festival (Afrizal Malna,1999).
Aktivitas teater terjadi juga di
kampus-kampus perguruan tinggi. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah
teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jurusan
teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. ISI
menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk
bidang seni teater pada saat itu. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan
dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.
8. Teater Kontemporer Indonesia (1990-2010)
Teater Kontemporer Indonesia
mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Sejak munculnya eksponen 70
dalam seni teater, kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing
seniman. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80- an sampai saat ini.
Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Meksipun seni teater konvensional
tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Semangat
kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal
dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Dengan demikian,
wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap
semakin banyak.
9. Teater Musikal (2010-Saat Ini)
Teater Musikal sebenarnya sudah ada sejak lama, namun sedang mengalami perkembangan pesat dan menjadi tren di dekade ini, Banyak komunitas teater yang mengubah gaya nya menjadi teater musikal. Tak hanya itu, Teater Internasional dengan judul-judul legendaris seperti Beauty and the Beast, dan The Sound of Musical juga menyajikan pasar di Indonesia. Komunitas teater berlomba-lomba menciptakan pentas musikal terbaik didukung gedung-gedung teater yang kini menopang sagala kebutuhan teknik suara yang dibutuhkan. Beberapa komunitas teater yang kini sedang gencar-gencarnya melebarkan sayapnya adalah JKTMoveIn (Jakarta Movement of Inspiration) oleh Nurul Susantono dan Someday Project oleh Joseph Moris
Berikut adalah sejarah perkembangan teater di Indonesia, Selanjutnya kita akan membahas tentang salah satu komunitas teater di Indonesia, Someday Project
Berikut adalah sejarah perkembangan teater di Indonesia, Selanjutnya kita akan membahas tentang salah satu komunitas teater di Indonesia, Someday Project
Perkembangan Teater di Indonesia #1
Setelah membahas perkembangan teater di dunia, kita akan masuk ke lingkup yang lebih kecil lagi yaitu perkembangan teater di negara kita, Indonesia. Teater di Indonesia telah ada sejak lama dan terus berkembang sampai saat ini
1. Teater Tradisional
Kasim Achmad dalam bukunya
Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater
tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada
tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk
mendukung upacara ritual. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu
upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan
masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarnya baru
merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater
yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater
tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat
dalam masyarakat lingkungannya.
Proses terjadinya atau munculnya
teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan
daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater
tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat,
sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
Macammacam teater tradisional
Indonesia adalah :wayang kulit, wayang wong, ludruk , lenong, randai, drama
gong, arja, ubrug, ketoprak, dan sebagainya.
2. Teater Transisi (1800-1920)
Teater transisi adalah penamaan
atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami
perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong
kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik
teater Barat, dinamakan teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada
cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau
outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan
menggunakan panggung dan dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung
pertunjukan. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan
teater non-tradisi. Selain pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional
berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda
di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi
(Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang
Gedung Kesenian Jakarta).
Perkenalan masyarakat Indonesia
pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel
di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak
mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan
naskah drama/lakon. Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon
dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda
F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901.
Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia
Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.
Setelah Komedie Stamboel
didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay
Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21
Juni 1926. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul,
Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek,
Sandiwara Tjahaja Timoer, dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum
muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater
pada masa itu menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan
dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan,
istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat
Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan.
3. Teater Indonesia Pujangga Baru (1920-1940)
Teater pada masa kesusasteraaan
angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater
modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan.
Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih
menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Drama-drama Pujangga Baru
ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena
penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan
sekitar tahun 1930-an. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa
Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak
adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya
Rustam Efendi (1926). Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi
pelopor semangat kebangsaan. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama
Bujangga, yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Penulis
lakon lainnya, yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning
Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Armiijn
Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji
Tisna menjadi naskah drama. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere,
dengan judul Si Bachil. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu
Gandring. Dr. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Mr.
Singgih menulis drama berjudul Hantu. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema
kebangsaan, persoalan, dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai
negara merdeka. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia, menulis
dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Bahkan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, pada tahun 1927 menulis dan
menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Beberapa lakon yang
ditulisnya antara lain, Rainbow, Krukut Bikutbi, dan Dr. Setan.
4. Teater Indonesia-Jepang (1940-1950)
Semua unsur kesenian dan
kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung
pemerintahan totaliter Jepang. Segala daya kreasi seni secara sistematis di
arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Namun demikian, dalam
situasi yang sulit dan gawat serupa itu, dua orang tokoh, yaitu Anjar Asmara
dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian
Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan
perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam
wujud kesenian nasional Indonesia. Maka pada tanggal 6 oktober 1942, di rumah
Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai
berikut, Sanusi Pane (Ketua), Mr. Sumanang (Sekretaris), dan sebagai anggota
antara lain, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjabana, dan Kama Jaya. Badan Pusat
Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru, di antaranya
dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian
Indonesia baru.
Langkah-langkah yang telah
diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan
kesenian Indonesia, ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan
propaganda Jepang, yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama
Djawa Eiga Kosy’, yang dipimpin oleh orang Jepang S. Oya. Intensitas kerja
Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia
nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia, Ratu Asia,
Pendekar Asia, yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Dalam masa
pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah
rombongan sandiwara profesional. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni
hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti
budaya Barat. Rombongan sandiwara keliling komersial, seperti misalnya Bintang
Surabaya, Dewi Mada, Mis Ribut, Mis Tjitjih, Tjahaya Asia, Warna Sari, Mata
Hari, Pancawarna, dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita
dalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Sunda. Rombongan sandiwara Bintang
Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan, antara lain Astaman, Tan Ceng
Bok (Si Item), Ali Yugo, Fifi Young, Dahlia, dan sebagainya. Pengarang Nyoo
Cheong Seng, yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam
rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain, Kris Bali,
Bengawan Solo, Air Mata Ibu (sudah difilmkan), Sija, R.A Murdiati, dan Merah
Delima. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan
dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella, Komedi Bangsawan, dan
Bolero, yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian,
nyanyian, dan lawak. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode
show, dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik .
Menyusul kemudian muncul
rombongan sandiwara Dewi Mada, dengan bintang-bintang eks Bolero, yaitu Dewi Mada
dengan suaminya Ferry Kok, yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Rombongan
sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater
mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara
Bolero. Cerita yang dipentaskan antara lain, Ida Ayu, Ni Parini, dan Rencong
Aceh.
Hingga tahun 1943 rombongan
sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis
pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Baru kemudian
Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara
Warna Sari. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan
musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia, seorang keturunan Filipina, yang
terkenal sebagi Raja Drum. Garsia menempatkan deretan drumnya yang berbagai
ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut
sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton.
ceritacerita yang dipentaskan antara lain, Panggilan Tanah Air, Bulan Punama, Kusumahadi,
Kembang Kaca, Dewi Rani, dan lain sebagainya.
Rombongan sandiwara terkenal
lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih, yaitu rombongan sandiwara
yang digemari rakyat jelata. Dalam perjalanannya, rombongan sandiwara ini
terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama
menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan ceritacerita baru
untuk kepentingan propaganda Jepang. Anjar Asmara, Ratna Asmara, dan Kama Jaya
pada tanggal 6 April 1943, mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda
Matahari. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang
menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian
dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Bentuk penyajian semacam ini
di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan
sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa
rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Lakon-lakon yang
ditulis Anjar Asmara antara lain, Musim Bunga di Slabintana, Nusa Penida,
Pancaroba, Si Bongkok, Guna-guna, dan Jauh di Mata. Kama Jaya menulis lakon
antara lain, Solo di Waktu Malam, Kupu-kupu, Sang Pek Engtay, Potong Padi. Dari
semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu, Solo di Waktu Malam dan
Nusa Penida.
Pertumbuhan sandiwara profesional
tidak luput dari perhatian Sendenbu. Jepang menugaskan Dr. Huyung (Hei Natsu
Eitaroo), ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD
(Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan
sandiwara profesional. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan
oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang,
Kotot Sukardi menulis lakon, Amat Heiho, Pecah Sebagai Ratna, Bende Mataram,
Benteng Ngawi. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu, lakon Nora karya Henrik Ibsen
diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane.
Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Oleh karena ada sensor Sendenbu
maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Para pemain tidak boleh
menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Sensor
Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan
sandiwara.
Menjelang akhir pendudukan Jepang
muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti, yaitu
Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail, dan D. Djajakusuma dengan dukungan
Suryo Sumanto, Rosihan Anwar, dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda,
nasionalis dan para profesional (dokter, apoteker, dan lain-lain). Kelompok ini
berprinsip menegakkan nasionalisme, humanisme dan agama. Pada saat inilah
pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Teater tidak hanya
sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran
nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang
teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Bahwa teori teater perlu
dipelajari secara serius. Kelak, Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya
Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta.
25 Desember 2015
Sejarah Teater Dunia #2
setelah kemarin membahas sejarah teater yang dimulai dari era yunani sampai era abad pertengahan, kita akan mulai membahas dari era keemasan dunia teater dimana banyak karya bersejarah yang masih dipertahankan dan terus diperbaharui sampai sekarang pertama kali dipentaskan,
Era Renaissance
Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuan-penemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat
Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme.
Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana.
Ada tiga jenis drama yang dikembangkan, yaitu tragedi, komedi, dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya.
Era Ratu Elizabeth I
Pada tahun 1576, selama pemerintahan Ratu Elizabeth I, gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. Salah satunya yang disebut Globe, gedung teater ini bisa menampung 3.000 penonton. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung.
Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare, penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Ia adalah seorang aktor dan penyair, selain penulis drama. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang, yang disebut solilokui, dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema, mulai dari pembunuhan dan perang sampai cinta dan kecemburuan.
Abad ke-19
Drama Romantik berkembang antara tahun 1800-1850 karena memudarnya gagasan neoklasik dan terjadinya peristiwa revolusi Perancis. Revolusi Perancis - yang berhasil mengubah struktur dan pola kehidupan rakyat Perancis - menghadirkan gerakan baru di dunia teater yang mendorong terciptanya formula penulisan tema dan penokohan dalam naskah lakon
Pada awal abad ke 19, sebuah pergerakan teater besar yang dikenal dengan Romantik mulai berlangsung di Jerman. August Wilhelm Schlegel adalah seorang penulis Roman Jerman yang menganggap Shakespeare adalah salah satu dari pengarang naskah lakon terbesar dan menerjemahkan 17 dari naskah lakonnya. Penggemar besar Shakespeare lain adalah Ludwig Tiecky yang sangat berperan dalam memperkenalkan karya-karya Shakespeare kepada orang-orang Jerman.
Banyak perubahan terjadi di Eropa pada abad ke 19 karena Revolusi Industri. Orang-orang berkelas pindah ke kota dan teater pun mulai berubah. Bentuk-bentuk baru teater diciptakan untuk pekerja industri seperti Vaudeville (aksi-aksi seperti rutinitas lagu dan tari), Berlesque (karya-karya drama yang membuat subyek nampak menggelikan), dan melodrama (melebih-lebihkan karakter dalam konflik – pahlawan versus penjahat). Sandiwara-sandiwara romantis dan kebangkitan klasik dimainkan di gedung teater yang megah pada masa itu.
Abad ke-20
Teater telah berubah selama berabad-abad. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik, hiburan, pendidikan, dan mempelajari hal-hal baru. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena, atau yang disebut saat ini, Teater di Tengah-Tengah Gedung. Dewasa ini, beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini. Abad ke 20 merupakan napak tilas pertama dari perjalanan era teater modern dimana judul-judul musikal bersejarah pertama kali dipentaskan dan menjadi cikal bakal serta pondasi teater yang ada.
berikut adalah sejarah singkat tentang teater di dunia, banyak hal bersejarah yang saling kait mengkait dalam membentuk pondasi yang akhirnya membentuk era teater modern atau yang kita kenal sebagai teater musikal dengan kiblat utama broadway dari amerika dan west end di inggris.
24 Desember 2015
Sejarah Teater Dunia #1
Setelah sedikit kita bahas secara singkat apa sih pengertian teater, saya akan menjabarkan sejarah teater secara singkat dari berbagai sumber yang selama ini saya pelajari, dimulai dari era yunani sampai abad sekarang ini
Era Yunani
Perkembangan drama sekarang ini berawal dari Yunani Purba seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sekitar tahun 600 SM ada festival untuk menghormati dewa Dyonysius yaitu dewa anggur dan kesuburan. Festival tersebut berbentuk festifal tarian dan nyanyian, kemudian mereka menyelenggarakan sayembara pertunjukan dimana ada tarian, nyanyian yang didasarkan pada sebuah cerita, secara historis itu menjadi sayembara drama pertama. Sayembara biasa dilakukan di Athena dan pertunjukan yang dibawakan adalah drama tragedy. Pemenang sayembara pertama kali itu ialah Thespis seorang actor dan penulis tragedi yang pertama dikenal di dunia. Thespis sebenarnya merupakan tokoh historis tetapi oleh masyarakat Yunani Kuno dijadikan legenda, dan segala seuatu tentang drama dinyatakan sebagai penemuan Thespis, maka kerena itu para actor pertunjukan disaat itu disebut Thespian.
Perkembangan drama Yunani mengalami puncaknya sekitar tahun 400 SM . drama masih diperuntukan sebagai bagian dari upacara agama. Upacaranya terbuka untuk umum . tempat pertunjukan yag terkenal di Athena adalah teater Dyonysius, yang terletak disamping bawah bukit Acropolis, yaitu pusat kuil di Athena.
Pada saat itu penulis drama biasa memainkan naskahnya sendiri, jadi seorang actor sekaligus seorang penulis naskah cerita. Dari begitu banyaknya naskah drama Yunani kuno kurang lebih hanya tigapuluh naskah yang ada sampai sekarang ini. Dan naskah-naskah itu ditulis oleh penulis-penulis terkenal dizamannya seperti Aeskilos, Sophokles dan Euripedes (ketiga tokoh drama ini spesialis Tragedi), Aristhopanes (Komedi), dan Menander (komedi).
Pada akhir Tahun 400-an SM festival drama Dyonysius, tidak melulu drama tragedy malah sang actor peserta festival harus menyuguhkan 3 tragedi dan 1 Satyr. Satyr ini dimaksudkan sebagai komedi ringan dan pendek yang jenaka dan parody terhadap mitologi. Arti Satyr sendiri adalah makhluk mitologi yang setengah manusia setengah binatang dan para koor drama Satyir biasanya memerankan para Satyr sang makhluk dongeng. Hanya ada satu naskah satyr yang selamat yakni Naskah Euripedes, yang berjudul Cyclop.
Pada tahun 300-an SM Komedi muncul, Komedi berasal dari kata Komodia yang maknanya membuat gembira. Dalam komedi pelaku utama biasanya memerankan tokoh sebagai pembawa ide gembira, misalnya pembawa pesan damai untuk mengakhiri perang, seluruh cerita naskah drama pada saat itu berakhir menggembirakan. Karena saat itu tidak ada atau tidak boleh ada percampuran jenis cerita drama antara komedi dan tragedi (karena pertunjukan tragedy bermula dari perayaan upacara keagamaan) Biasanya setelah pertunjukan komedi, acara dilanjutkan dengan Komos yakni keluar arena pertunjukan dan mengadakan pesta dengan penuh kegembiraan.
Era Romawi
Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett, 1964). Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani.
Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat
Teater Romawi merosot setelah bentuk Republik diganti dengan kekaisaran tahun 27 Sebelum Masehi dan lenyap setelah terjadi penyerangan bangsa-bangsa Barbar serta munculnya kekuasaan gereja. Pertunjukan teater terakhir di Roma terjadi tahun 533.
Era Pertengahan Eropa
Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pageant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung.
Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen
Masih ada banyak lagi sejarah teater yang dapat kita pelajari dan akan diulas di postingan selanjutnya
Langganan:
Postingan (Atom)






















